Kamis, 29 Juni 2017
NEWS TICKER
Sang “SUPER HERO LINGKUNGAN” Penopang Ekonomi Masyarakat »  GEMASABA salah satu indikator sukses kaderisasi PKB »  PKB LAHIR DARI RAHIM NU »  Garda Bangsa DKC Bondowoso Optimis dapat menarik Simpati Pemuda »  Ketika Integritas dan Kredibelitas diuji Penghuni Maya »  Mengenal Lebih Dekat Halim Iskandar »  Semangat Kemerdekaan Dimalam Lailatul Ijtima’ »  Perjuangkan Nasib Petani Tembakau Lokal, FPKB Temui Dua Perusahaan Rokok Multi Nasional »  Bela Negara, Membela Perjuangan Bangsa »  Dirjend Politik dan Pemerintahan Umum Kunjungi PKB »  Tokoh Masyarakat Bajo Kunjungi Ketum PKB »  Mengenang Gus Dur »  Launching Dua Website, DPC PKB Kab. Bondowoso nyatakan siap memasuki Babak dan Era baru politik »  5 DPW PKB Mendapat Penghargaan »  Dari hidangan makan ala SANTRI hingga “Holopis Kuntul Baris” » 
 
Home » REFLEKSI » Semangat Kemerdekaan Dimalam Lailatul Ijtima’
REFLEKSI

Semangat Kemerdekaan Dimalam Lailatul Ijtima’

Rabu, 17 Agustus 2016 - 225 Kunjungan

 

index2

Bondowoso – Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71, H. Tohari S.Ag, anggota Komisi II DPRD yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa dan Sekjen DPC PKB Kab. Bondowoso ini mengajak seluruh kader dan seluruh element partainya untuk bekerja dengan baik dan ikhlas, Menurutnya ” Hari Kemerdekaan Indonesia selayaknya bukanlah menjadi acara ceremony semata. Hari di mana bangsa ini bebas dari tangan penjajah seyogyanya menjadi momen tepat untuk membangkitkan kembali semangat bekerja. Mengabdi untuk negeri, demi kemajuan bangsa” Hal ini disampaikan disela acara lailatul ijtma’ Warga NU yang dselenggarakan olehnya kemaren (Selasa,16/8/2016) dikediamannya.

Acara yang meliputi pembacaan sholawat nariyah, hotmil qur’an, Tahlil dan sholat ghoib untuk para pejuang yang bertajuk “Lailatul Ijtima” ini diikuti oleh ratusan warga nahdliyyin dan puluhan kader partainya diantaranya Ketua Garda Bangsa DKC Bondowoso, H. Nurul Effendi, S.Pd.I., H. Zaki Imron Humaidi dll.

index4

Selanjutnya Menurut H. Tohari, “ lailatul ijtima’ atau malam pertemuan rutin ini adalah forum silaturrahmi baik antara pengurus dengan warga atau antara warga dengan warga dan bahkan ada pula bahtsul masail didalamnya, dimana kegiatan ini sudah menjadi tradisi rutin yang dilakukan oleh setiap tingkatan kepengurusan NU mulai dari ranting sampai PBNU, Meredupnya lailatul ijtima salah satunya disebabkan oleh perubahan zaman, globalisasi yang meterialistik atau munculnya kompetisi yang akhirnya mengendurkan semangat untuk ber-NU ‘Oleh karenanya kegiatan ini akan kami selenggarakan Rutin setiap tanggal 14 tiap bulannya..” kata SEKJEN DPC PKB Kab. Bondowoso tersebut mengakhiri pembicaraannya.

Lailatul Ijtima’ Awalnya adalah kebiasaan para kiai yang akhirnya menjadi kebiasaan orang-orang NU atau pengurus NU. Acara ini dimanfaatkan untuk membahas, memecahkan dan mencarikan solusi atas problem organisasi, mulai masalah iuran, menghadapi Ramadlan, Tarawih, menentukan awal Ramadlan, sampai menjalar ke masalah-masalah umat yang berat.-red

Pertemuan semacam ini berdasar pada, pertama:

وَفِي رِوَايَةِ البُخَارِي وَمُسْلِمٍ وَالتُّرْمُذِي وَالنَّسَائِي قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اَلدُّعَاءُ مُسْتَجَابٌ عِنْدَ اجْتِمَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ. وَفِيْ رِوَايَةٍ الدُّعَاءُ مُسْتَجَابٌ فِيْ مَجَالِسِ الذِّكْرِ وَعِنْدَ خَتْمِ الْقُرْآنِ. كَذَا فِيْ الْحِصْنِ الْحَصِيْنِ

Dari riwayat Bukhori, Muslim, Turmudzi, dan Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda: Doa mustajab (dikabulkan) itu ketika berkumpulnya kaum muslimin. Di sebuah riwayat lain disebutkan: Doa mustajab itu ada di majels dzikir dan khataman Al-Qur-an. Demikian seperti dumuat dalam kitab Al-Hisnul Hasin. (Khozinatul Asror, hlm 140)

Dalil kedua:

وَالْحَقُّ أنَّ اْلمُؤْمِنَ إِذاَ اشْتَغَلَ فِيْ تِلْكَ الَّيْلَةِ الْخَاصَّتِ بِأّنْوَاءِ الْعِبَادَةِ مِنَ الصَّلَاتِ وَالتِّلَاوَةِ وَالذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ يَجُوْزُ وَلَا يُكْرَهُ


Orang-orang mukmin jika menyelenggarakan malam yang khas itu dan mengisinya dengan berbagai kegiatan seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan doa, hukumnya boleh-boleh saja, tidak makruh. (Durratun Nasihin, Hlm 204)

Dalil ketiga,

اَلْعِبَادَةُ هُوَ فِعْلُ الْمُكَلَّفِ عَلَى خِلَافِ هَوَى نَفْسِهِ تَعْظِيْمًا لِرَبِّهِ

Ibadah adalah pekerjaan mukallaf melawan hawa nafsu demi mengagungkan asma Allah. (At-Ta’rifat lis Sayyid Ali bin Muhammad al-Jurjani, hlm. 128)

Salah satu pembukaan dalam Lailatul Ijtima’ ini biasanya adalah pembacaan tahlil yang menjadi ciri khas orang NU, mengirim doa kepada arwah orang tua, para guru, semua kaum muslimin dan muslimat, khususnya para sesepuh pendiri NU yang telah wafat. [Vin’s]

Related Post