Sabtu, 27 Mei 2017
NEWS TICKER
Sang “SUPER HERO LINGKUNGAN” Penopang Ekonomi Masyarakat »  GEMASABA salah satu indikator sukses kaderisasi PKB »  PKB LAHIR DARI RAHIM NU »  Garda Bangsa DKC Bondowoso Optimis dapat menarik Simpati Pemuda »  Ketika Integritas dan Kredibelitas diuji Penghuni Maya »  Mengenal Lebih Dekat Halim Iskandar »  Semangat Kemerdekaan Dimalam Lailatul Ijtima’ »  Perjuangkan Nasib Petani Tembakau Lokal, FPKB Temui Dua Perusahaan Rokok Multi Nasional »  Bela Negara, Membela Perjuangan Bangsa »  Dirjend Politik dan Pemerintahan Umum Kunjungi PKB »  Tokoh Masyarakat Bajo Kunjungi Ketum PKB »  Mengenang Gus Dur »  Launching Dua Website, DPC PKB Kab. Bondowoso nyatakan siap memasuki Babak dan Era baru politik »  5 DPW PKB Mendapat Penghargaan »  Dari hidangan makan ala SANTRI hingga “Holopis Kuntul Baris” » 
 
Home » OPINI » Dari hidangan makan ala SANTRI hingga “Holopis Kuntul Baris”
OPINI

Dari hidangan makan ala SANTRI hingga “Holopis Kuntul Baris”

Minggu, 4 September 2016 - 146 Kunjungan

Adalah sebuah kebiasaan yang hingga saat ini tetap dilestarikan oleh kader-kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari masa ke masa, yaitu  Hidangan makan khas ala santri  dimana  hal ini dianggap salah satu media silaturrahim yang efisien dan ekonomis untuk mencairkan Suasana  ditengah ketegangan-ketegangan saat bertugas.

Hidangan makan yang disajikan secara sederhana dengan hanya menggunakan daun pisang atau nampan sebagai alas dari sajian yang dihidangkan untuk disantap bersama-sama,  merupakan salah satu implementasi gaya hidup santri saat masih menimba ilmu di pesantren-pesantren yang  dikenal masyarakat dengan istilah “Santrean”. Istilah santrean sendiri digunakan oleh masyarakat untuk memberikan istilah pada setiap bentuk kegiatan yang dilakukan dengan ala kadar tanpa mengenyampingkan nilai-nilai religinya.

Uniknya kegiatan ini dilakukan dengan penuh kebersamaan dan gotong royong.Semua anggota tanpa pandang bulu harus terlibat mulai dari persiapan untuk memasak, belanja ke pasar dan makan bersama dalam satu sajian daun pisang yang dikemas memanjang dilantai.

Orientasi politik Nahdlatul Ulama (NU)  sebagai organisasi para kiyai dari kalangan Islam tradisionalis, menjadikan Partai Kebangkitan Bangsa sebagai satu-satunya Partai  yang lahir dari tubuh NU dihuni oleh banyak kaum santri yang selama ini, dikenal memiliki pendidikan moral dan etika yang tinggi dan dikenal lebih taat memenuhi serta mengaplikasikan ajaran-ajaran agama islam dalam kehidupan sehari-hari, yang  juga gigih memperjuangkan berlakunya syariah baik secara formal dalam berbagai bentuk perundang-undangan atau pun secara fungsional melalui sosialisasi nilai-nilai moral ke dalam setiap praktik kekuasaan dan kehidupan sosial.
Memang Hubungan NU dan PKB bak hubungan guru dan murid yang tunduk patuh seperti hubungan cantrik dan batara guru dalam agama Hindu.

Sebagai partai penjaga keutuhan bangsa Indonesia, partai humanis religius, partai yang mengedepankan toleransi, sudah barang  tentu menjadi  pelopor berpolitik  harmonis serta bekerja tidak monoton yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi satu sama lain dengan membuahkan hasil tanpa konflik asimilasi menjadi  bagian dari tujuannya.

“saeka praya”, bebarengan “mrantasi gawe” atau bekerja dengan cara bergotong royong untuk satu tujuan yang mulia demi kemaslahatan, kesejahteraan, dan kemakmuran rakyat  yang dimanifestasikan  pada jargon “Holopis Kuntul Baris” dengan seruan Menangkan Rakyat dalam Persaingan Global” diharap menjadi sebuah mantra yang mampu merasuk ke dalam jiwa dan menjelma menjadi energi dahsyat untuk menghadapi berbagai persoalan secara bersama-sama. Sehingga sesulit apapun persoalan jika diselesaikan secara bersama-sama akan sangat mudah. [Vin’s]

Related Post